Arsip untuk ‘flu Burung’ Kategori

H5N1 clade 2.3.2

Posted: Januari 15, 2013 in flu Burung, H5N1 clade 2.3.2
Virus flu burung atau Avian Influaenza (AI) varian baru: clade 2.3.2, berbeda dengan varian sebelumnya, 2.1, yang hanya patogen pada ayam dan burung, virus AI baru ini diyakini bersifat lebih patogen. Kematian itik dan kemudian ayam kampung karena virus baru ini cukup tinggi.

Virus clade ini bukan merupakan hasil mutasi dari virus AI clade 2.1 yang sebelumnya sudah mewabah di Indonesia. Selama ini, virus flu burung H5N1 clade 2.1 berubah menjadi varian 2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3. Kedua varian terakhir juga menginfeksi manusia. Sejak 2008, varian 2.1.3 banyak ditemukan pada hewan dan manusia, yakni sekitar 80 persen.

Sejak pertamakali ditemukan pada 2003, belum ada informasi di Indonesia  telah ditemukan virus flu burung varian selain 2.1, apalagi 2.3.2. Virus ini pertamakali ditemukan di Brebes, Jawa Tengah. Dari manakah virus varian baru itu? Mengapa pertamakali ditemukan di Brebes?

Sekretaris Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono menduga ada tiga kemungkinan masuknya clade 2.3.2 ke Indonesia: dari impor atau luar negeri, migrasi burung liar, dan mutasi genetik. “Dari mutasi genetik paling kecil kemungkinannya,” kata Emil kepada Metrotvnews.com.
kemungkinan besar virus varian baru itu hadir akibat perdagangan unggas lintas wilayah. Perdagangan unggas bisa legal dan ilegal. Ia menduga, perdagangan unggas di Brebes itu ilegal karena di sana banyak pelabuhan tak resmi. Itik di Brebes tidak dikandangkan. Amat mungkin terkontaminasi migrasi burung.

Hal senada disampaikan ahli virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Yogyakarta Widya Asmara. Widya yakin, virus clade 2.3.2 dibawa burung liar yang bermigrasi dari Asia ke pantai-pantai di Indonesia akibat musim dingin di belahan bumi utara. Tidak tertutup kemungkinan virus masuk lewat perdagangan antar-negara yang tak terdeteksi.

Pendapat berbeda diungkapkan CA Nidom. Ketua Avian Influenza-zoonosis Research Center Universitas Airlangga Surabaya itu menduga, virus varian baru ini masuk sengaja melalui impor. “Ada pihak yang sengaja memasukkan virus tersebut ke Tanah Air, tapi belum diketahui apa motifnya. Ini bisa disebut bioteroris,” tegas Nidom kepada Metrotvnews.com.

Nidom tidak mau mengungkap jati diri pihak yang dia tuding itu. Menurut Nidom, benar-tidaknya tudingan bisa dilihat perkembangan kasus ini. “Apakah akan ada bibit atau daging bebek yang akan diintroduksi besar-besar ke Indonesia, termasuk vaksin unggas yang berisi varian 2.3.2, seperti kejadian pada tahun 2003-2004? Hanya waktu yang membuktikan.”

Nidom tentu tidak mengada-ada. Ia yakin virus varian baru itu bukan bawaan migrasi burung. “Clade 2.3.2 biasanya ada di China dan jalur migrasinya ke arah barat, ke India lalu ke Eropa. Lalu kalau migrasi ke selatan, walaupun memang ada jalurnya yang nanti berlanjut ke Australia, harusnya Sumatra kena juga. Sekarang kenapa Jawa yang lebih dulu kena?” tanya Nidom.

Secara geografis, kata Nidom, varian 2.3.2 banyak ditemukan di Asia sebelah barat dari Danau Qinghai (China). Namun, karena burung migrasi, varian ini ditemukan di bagian timur Asia, seperti Hongkong, Korea, Jepang, bahkan sampai di Bulgaria. Varian 2.3.2 punya kedekatan dengan virus sejenis dari Qinghai (China), Rusia, Mongolia, India, dan Vietnam. Juga merupakan kerabat jauh dengan virus yang berasal dari Hongkong. “Sementara di Indonesia berasal dari mana?” tanya Nidom.

Yang juga mengherankan, kata Nidom, ia mendapat informasi FAO (Food and Agricultural Organization) menyarankan Indonesia memakai vaksin flu burung buatan China. “Saya dapat desas-desus dan katanya direkomendasikan FAO. Saya pikir peralatan yang ada di laboratorium kami (Unair) tersedia dari A sampai Z. Jadi buat apa impor vaksin dari China,” kata Nidom. Lagipula vaksin asal China belum tentu cocok dengan virusnya.

Bagi Nidom, virus varian baru ini tidak boleh dianggap sekadar urusan kesehatan. Tapi sudah menyangkut ketahanan bangsa. Lantaran itu, Nidom mengkoordinasikan dugaan ini tak hanya dengan Kementerian Kesehatan, tapi juga dengan Kementerian Pertahanan dan Badan Intelijen Nasional

sumber : metro tv

Flu Burung

Posted: Desember 29, 2012 in flu Burung
Merebaknya pandemik flu babi di dunia, termasuk di Indonesia, disinyalir terjadi karena ada unsur kesengajaan pihak tertentu dalam mencari keuntungan bisnis. Demikian dikatakan pengamat intelijen, Suripto (Detik News, 13/07).

Dia mengaku pernah bertukar pikiran dengan Menkes Siti Fadillah Suparipada 2008 lalu, saat ramai-ramai kasus flu burung lalu. “Besar kemungkinannya ini juga ada operasi intelijen bisnis, dari kompetitor perusahaan multinasional yang bercokol di Jerman dan yang di Swiss,” tambah mantan pejabat Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) itu.

Benarkah sinyalemen ini?
Berikut adalah petikan dari situs conspiracyrealitytv.com yang menguraikan fakta-fakta terkait kuat dengan dugaan konspirasi penyebaran virus flu burung dan babi di dunia. Selanjutnya terserah anda untuk memberikan penilaian.

Pengakuan John D. Rockefeller, Pengusaha Pabrik Vaksin AS
Kita akan membicarakan tentang apa yang yang terjadi pada bulan April 1930. Ini dari arsip sejarah yang mudah diverifikasi. Pada bulan April 1930, sebuah perusahaan yang disebut Eli Lilly membuat suatu substansi yang disebut thimerosal, juga diketahui sebagai mercury (air raksa). Thimerosal ini digunakan di dalam vaksin-vaksin yang berbeda sejak 1930-an, atau apa yang disebut suatu adjuvan. Adjuvan adalah sesuatu yang didefinisikan bahan yang meningkatkan efektivitas per bagian virus atau bakteri yang terdapat di dalam vaksinasi.

Sekarang aku perlu untuk memberi anda sedikit latar belakang Ely Lilly, pendiri-pendiri Eli Lilly, atau orang-orang yang duduk di dewan direktur pada waktu itu. Kita tengok dan perhatikan para direktur Eli Lilly, dan kita menemukan seorang laki-laki bernama Prescott Bush, yang adalah ayah dari George Herbert Walker Bush (Presiden AS ke-41) atau kakek dari George Walker Bush (Presiden AS ke-43).

Kita menemukan juga Prescott Bush itu mempunyai sejumlah orang sangat yang menarik yang duduk di perusahaannya pada waktu itu. Ayah Wakil Presiden George H.W. Bush, Dan Quayle, keluarga Quayle juga duduk dalam dewan direktur pada waktu itu di Eli Lilly. Eli Lilly dalam tahun 1930 mempublikasikan satu rangkaian eksperimen pada produk thimerosal ini. Dan ketika aku ditunjukkan dan melihat hasil-hasil dari riset thimerosal ini aku tidak dipercaya dan terheran-heran. Mereka menyuntikkan thimerosal ke tubuh 22 orang pengidap meningitis spinal (radang selaput otak sumsum tulang belakang), dan semua mati seketika. Namun kemudian Eli Lilly menerbitkan hasil riset tersebut, dan klaim mereka thimerosal itu, yang adalah 50% racun mercury yang berat, sepenuhnya aman. Sejak itulah langkah awal dimulai. Saya menghubungkan di sini, kakek George W. Bush, Prescott Bush, menjadi periset paling pertama dari thimerosal dan vaksinasi-vaksinasi sebelum 1930.

Dalam 1972 aku menemukan Organisasi Kesehatan Dunia, juga yang dikenal sebagai WHO. Hal ini mengacu pada penciptaan suatu virus yang kebal, dan menyatakan bahwa bermanfaat untuk belajar pengaruh itu seperti dikutip “untuk menaruh virus ini ke dalam program vaksinasi di seluruh negara dan mengamati hasilnya”. Banyak orang, banyak ahli biokimia yang sudah kuajak berbicara, berteori bahwa WHO menggunakan program vaksinasi cacar di Central Africa pertama-tama untuk riset ini, dan dari sanalah berawal penyebaran infeksi HIV. Hal itu bersamaan waktunya dengan kampanye vaksinasi cacar yang paling baru dan intens.

Maka aku di sini mengatakan kepada anda semua bahwa dalam tahun 1972, percobaan penyakit cacar telah mengarahkan kepada perjangkitan HIV/AIDS yang sekarang ini telah membinasakan Afrika dan menjadi masalah di Amerika. Permintaan virus lagi di tahun 1972 ini, dikatakan permintaan virus kembali akan dengan selektif menghancurkan sistem T-sel manusia. Dan izinkan saya mengatakan bahwa tepatnya apa yang disebut penghancuran kekebalan tubuh manusia oleh virus HIV sedang dimulai.

Dan kita juga perlu untuk membicarakan dengan singkat tentang apa yang terjadi pada bulan Desember 1976 untuk membuat tahap untuk apa yang disebut hoax flu burung. Kita perlu juga melihat kembali pada sesuatu yang disebut hoax flu babi yang terjadi pada bulan Desember 1976. Pada Fort Dix New Jersey, seorang prajurit AS meninggal, seorang prajurit meninggal, Pusat Kontrol Penyakit pada waktu itu melaporkan kepada warga AS dan masyarakat dunia melalui media yang sudah dikendalikan, bahwa bangsa Amerika sedang berada dalam bahaya berhadapan dengan pandemik flu babi yang bisa menewaskan jutaan orang di AS.

Lalu apa terjadi, hal yang tepat yang aku ingin uraikan secara singkat apa yang sedang terjadi hari ini telah terjadi pada tahun 1976 yang lampau. Pusat AS untuk Kontrol Penyakit dikerahkan, mulai membeli dosis-dosis mahabesar dari vaksinasi flu babi untuk menyuntik semua orang Amerika sebanyak mungkin. Berjuta-juta dolar dibelanjakan oleh pemerintah AS dan memperkaya kartel farmasi untuk vaksinasi flu babi ini.

Ujung-ujungnya demi keamanan nasional, yang dengan mengagumkan menganugerahkan keistimewaan kepada Eli Lilly, Sanofi Pasteur dan semua pabrikan lain yang memproduksi vaksin-vaksin. Di balik itu WHO juga didanai oleh sponsor besar seperti Rockefeller Foundation, Arungan Foundation, dan Rothschild Group di London, yang secara mutlak mengontrol populasi-populasi untuk tujuan-tujuan politik tertentu di seluruh dunia. Sedikit pun tidak ada keraguan dalam pikiranku. Aku dapat meneruskan setengah jam beirkutnya untuk menunjukkan program-program spesifik yang dirancang untuk membunuh sejumlah besar orang, dan itu dikerjakan dalam setiap kasus tunggal, dengan pertolongan perkenalan vaksinasi.

Kita dapat melihat sebuah pola, sebuah modus operandi, di dalam kasus ini. Perkenalkan satu jenis vaksin kepada pusat-pusat populasi yang tidak menaruh curiga, sebabkan penyakit meluas, kematian meluas, kepanikan meluas, kekacauan meluas, dan lalu mereka masuk perangkap dan agenda telah diselesaikan. Itu adalah skenario reaksi terhadap masalah sama yang tua. Mereka menciptakan masalah, mereka mendikte tanggapan dan lalu mereka menentukan tindakan yang telah buat.

Izinkan saya menyampaikan hal ini. Ketakutan, panik, dan teror sebagian besar disebabkan oleh ketidaktahuan. Saudaraku, sebuah permasalahan haruslah sepenuhnya dipahami, saya menyampaikan ada sedikit ketertarikan dan sedikit ketakutan. Dan izinkan saya menekankan bahwa akar kata dari pandemik adalah kata panik. Panik dan pandemik adalah bersinonim.

Untuk pertama kali orang Amerika dipanggil untuk mengabdi, dimobilisasi untuk masuk ke dalam wajib militer, dan lalu dikirim untuk pelatihan di pangkalan militer di Spanyol. Ini adalah sangat penting untuk dipahami. Untuk pertama kalinya dalam sejarah AS, semua calon tentara yang baru, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Marinir, Angkatan Udara; semua calon tentara yang baru wajib diberi vaksinasi. Salah satunya adalah vaksinasi influensa yang sangat luas. Sekarang, para tentara ini tidak mempunyai pilihan.

Apakah mereka mau divaksinasi atau dipenjara 5 sampai 10 tahun tanpa kebebasan. Tragedi bagi saya, seorang pengusaha pabrik dari vaksin yang dipaksakan, seorang manusia yang bernama John D. Rockefeller yang membuat – secara harfiah – berjuta-juta dolar-dolar dalam penjualan vaksin kepada pemerintah AS.
Perusahaan Farmasi Baxter “Tanpa sengaja” Mengirim Vaksin Flu Burung yang Terkontaminasi ke 18 Negara.

Perusahaan (Baxter) yang melepaskan bahan virus flu yang terkontaminasi dari sebuah pabrik di Austria dikonfirmasi Jumat yang mana produk percobaan berisi virus-virus flu burung H5N1 yang hidup. Seorang pejabat WHO yang beroperasi di Eropa mengatakan badan itu memonitor dari dekat penyelidikan pada fasilitas riset milik Baxter International di Orth-Donau, Austria. Produk yang dicemari adalah suatu campuran dari virus-virus influensa musiman H3N2 dan virus-virus H5N1 tidak berlabel, yang disuplai untuk sebuah perusahaan riset Austria. Seorang subkontraktor di Republik Czech menyuntik sejenis musang dengan produk itu dan mati.

Jenis musang seharusnya tidak mati oleh virus-virus flu H3Ns yang berasal dari manusia. Pelepasan tidak disengaja suatu campuran hidup virus-virus H5N1 dan H3N2 bisa menimbulkan konsekuensi-konsekuensi mengerikan. Proses pencampuran, yang disebut memvariasikan kembali, adalah salah satu dari dua jalan pandemik virus diciptakan. Bisakah flu babi telah dibuat oleh manusia? Kalau anda memperhatikan peristiwa di atas, pasti anda akan berpikir seperti itu.

Perjangkitan flu babi tahun 2009: Laporan khusus oleh Dr. Leonard Horowitz mencakup industri vaksin untuk genocide
Hallo, saya Dr. Leonard Horowitz, dan ini adalah satu buletin berita mendesak tentang satu jenis flu baru yang disebutkan membuat perjalanannya dari Mexico ke memasuki Amerika Serikat (AS) seperti aku menyiarkannya. Sejumlah stok roket udara di Novavax, Inc. mempercepat berlusin-lusin kematian akibat influensa di Mexico yang mencakup suatu jaringan Anglo-American yang terkemuka dari insinyur-insinyur genetika dalam suatu komplotan untuk melakukan genocide (pemusnahan manusia).

Dr. James S. Robertson, insinyur biologi terkemuka dari Inggris di bidang virus-virus influensa untuk industri vaksin. Sebuah badan penyelenggara yang aktif dari lembaga pendanaan pemerintah AS untuk kontrak pertahanan biologi yang menguntungkan, di samping dengan partner-partner pada Pusat AS untuk Kontrol Penyakit (CDC) menolong Novavax, Inc. di Bethesda Maryland, memproduksi kombinasi ulang yang dimodifikasi secara genetik dari virus flu burung, babi, dan Spanyol, H5N1 dan H1N1 – hampir serupa dengan virus yang menyerang orang Mexico yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sekarang sudah menyebar ke AS.

Perjangkitan itu dilakukan tepat waktu untuk mempromosikan riset perusahaan terbaru dan kontrak-kontrak penimbunan vaksin yang besar. Para ilmuwan di CDC diimplikasi mengadakan kerjasama-kerjasama dan publikasi-publikasi yang disertai kontrak pribadi dengan Novavax Inc., sebuah perusahaan yang memperoleh dalam tanda kutip “produk-produk obat biofarma resmi” melalui direktur bagian influensa CDC, Ruben O. Donis dan Dr. Rick Bright yang sebelumnya bekerja dengan Donis di CDC, tapi sekarang sebagai wakil ketua Novavax bidang program-program influensa global.

Bukti adanya konspirasi ini untuk melakukan duplikasi mematikan di dalam industri vaksin termasuk penanda genetik pada virus influensa asli, yang sekarang menyebar dari Mexico ke Amerika. Virus itu dalam tanda kutip “secara genetik berbeda dari virus flu musiman H1N1 yang menyerang manusia secara penuh yang sedang bersirkulasi secara global selama beberapa tahun yang lalu” demikian Reuters dan pejabat berkata. Virus influensa yang baru berisi DNA tipe virus unggas, babi dan manusia. Termasuk unsur-unsur dari virus-virus flu babi dari orang Eropa dan Asia.

Ini adalah suatu uraian tentang tanda-tanda kehadiran dan diagnosa virus yang datang dari lingkaran pertemanan Robertson. Tidak ada kelompok lain di dunia ini yang mengambil H5N1 Asian influensa yang diinfeksikan kepada ayam, membawanya ke Eropa, mengekstrak DNA-nya, mengkombinasikan protein-proteinnya dengan virus-virus H5N1 dari tahun 1918 flu Spanyol yang terpisah, menambahkan pula tambahan yang dicampurkan dengan gen-gen flu babi dari babi-babi, lalu merekayasa balik virus-virus itu untuk menginfeksi manusia.

Produk akhir seperti diuraikan oleh Reuters hanya bisa berakhir, di Mexico melalui Amerika Serikat dari Inggris oleh CDC. Ruben Donis di CDC harus sudah mengirim virus-virus itu ke Novavax di mana regu Rick Bright, sekarang diimplikasikan dalam sebuah konspirasi untuk melakukan genocide, pembunuhan massal terhadap orang-orang untuk profit bisnis semata, seperti beberapa penjelasan sebelumnya.

Sumber : http://conspiracyrealitytv.com/bird-flu-swine-flu-hoax-conspiracy-the-mandatory-vaccination-and-population-reduction-agenda/ dan artikel terkait di situs yang sama